www.AlvinAdam.com

Berita 24 Sulawesi Barat

Subcribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Kampung KB, upaya 'mendengungkan' kembali keluarga berencana

Posted by On 20.23

Kampung KB, upaya 'mendengungkan' kembali keluarga berencana

]]> Kampung KB, upaya 'mendengungkan' kembali keluarga berencana

Kampung KBHak atas foto BBC Indonesia
Image caption Sala h satu warga Mangga Dua Selatan tengah menikmati layanan alat kontrasepsi gratis di Kampung KB Madusela, Jakarta Pusat

Perempuan Indonesia makin banyak menggunakan kontrasepsi dan sadar kesehatan reproduksi, namun angka kelahiran mengalami stagnasi pada tingkat yang relatif tinggi dengan jumlah ibu melahirkan lebih dari dua anak.

Dan inisiatif Kampung Keluarga Berencana (KB) menjadi upaya pemerintah untuk mendengungkan kembali program KB, sejalan dengan semakin tingginya kesadaran perempuan di negara-negara akan pentingnya kontrasepsi dan kesehatan reproduksi.

Hingga Juli 2017, lebih dari 309 juta wanita dan perempuan di 69 negara mengakses alat kontrasepsi modern atau meningkat 38.8 juta ketimbang lima tahun sebelumnya pada 2012, berdasar laporan terbaru dari Family Planning 2020 (FP2020).

Menurut laporan yang baru saja diterbitkan pada 5 Desember, penggunaan kontrasepsi modern d i negara-negara mulai Juli 2016-Juli 2017 mencegah 84 juta kehamilan yang tidak diinginkan, 26 juta aborsi yang tidak aman, dan 125.000 kematian maternal.

FP2020 adalah kemitraan global yang mendukung hak perempuan dan anak perempuan untuk memutuskan, secara bebas, dan untuk diri mereka sendiri, apakah, kapan, dan berapa banyak anak yang mereka inginkan.

Lebih dari separuh gadis dan wanita yang dianggap 'pengguna tambahan' ada di Asia, sebanyak 21,9 juta danb Indonesia termasuk salah satunya.

  • Alat kontrasepsi baru untuk pria segera diuji-coba
  • Kontrasepsi satu dolar untuk keluarga berencana
  • Sekolah untuk suami agar sadar KB

Peningkatan ini salah satunya lantaran imbas dari program pemerintah Kampung Keluarga Berencana (KB).

Mulai tahun 2016, Badan Keluarga Kecil Berencana Nasional (BKKBN) memprakarsai inisiatif baru yang disebut "Kampung KB" dengan sasaran miskin, daerah perkotaan padat penduduk, desa n elayan, daerah kumuh dan daerah tertinggal lainnya.

Kampung KB diharapkan akan membuat Program KB bergema kembali dan dapat menjangkau masyarakat, terutama yang berada di desa-desa, dusun-dusun, dan kampung-kampung di seluruh Indonesia.

Hingga September 2017, sebanyak 1.200 kampung KB telah terbangun di seluruh kota dan kabupaten di Indonesia.

Salah satu Kampung KB terletak di Kelurahan Mangga Dua Selatan (Madusela), Kecataman Sawah Besar, yang baru saja diresmikan sebulan lalu. Peresmian tersebut dilangsungkan di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Madusela, yang terletak persis dibawah jalur kereta stasiun Pangeran Jayakarta, Jakarta Pusat.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Kampung KB Madusela berada di Ruang Publik T erpadu Ramah Anak (RPTRA) Madusela, yang terletak persis dibawah jalur kereta stasiun Pangeran Jayakarta, Jakarta Pusat.

Penyuluh Keluarga Berancana, Iip Syaripudin, menuturkan wilayah itu ditetapkan sebagai kampung KB karena angka kelahiran di Mangga Dua Selatan terbilang cukup tinggi, di sisi lain penduduk di kelurahan itu sangat padat.

"Kami selalu ke lapangan untuk memotivasi mereka, kan kadang-kadang ada yang anaknya tiga ya. Makanaya kita bilang harusnya kan dua anak cukup. Kadang-kadang mereka kan gitu kan, dua belum cukup, masih pengen tiga," kata dia.

"Kampung KB mendengungkan KB lagi supaya masyarakat ber-KB, " imbuhnya.

"Jadi kami membuat pelayanan KB sebulan sekali [pada] minggu kedua. Pelayanan KB di sini khususnya untuk KB suntik, pil, kondom, implan sama IUD (intrauterine device) yang jangka panjang."

Kurniawan, pengelola Kampung KB Madusela menambahkan tiap kali penyuluhan dan pelayanan setiap bulannya, rata-rata diikuti oleh 10 perempuan warga sekitar.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Kurniawan, pengelola Kampung KB Madusela, menganggap program ini untuk mengubah mental masyarakat

Inisiatif Kampung KB diimplementasikan sebagai kolaborasi multi sektor untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat sekitar sekaligus untuk mengubah pola pikir masyarakat.

"Kalau dilihat sih karena banyak juga keluarga yang suka tanya, 'ini KB ada lagi atau enggak', 'ini gratis atau enggak'. Ini kan menandakan antusiasme warga untuk kegiatan ini,"

Suminem, salah seorang warga, berujar bahwa keberadaan Kampung KB memudahk an warga yang ingin memasang alat kontrasepsi.

"Sangat membantu banget. Soalnya dia yang tadinya jauh jadi deket gitu ber-KB di sini, sebelumnya di Puskesmas, jadi lebih deket, lebih praktis, lebih enak."

Namun menurut pakar kependudukan Siswanto Aguswilopo, Kampung KB belum efektif memperbanyak penggunaan alat kontrasepsi, pasalnya target pemerintah saat ini hanya "hanya satu desa per Kabupaten maka kontrobusi jumlah peserta tidak akan terlalu besar."

"Masalah baru di Indonesia justru KB di perkotaan. Kota lebih buruk dibanding desa," ujarnya.

Harapan baru dengan masuknya KB ke dalam JKN (jaminan kesehatan nasional) dimana semua ditanggung pemerintah, maka diharapkan program KB akan lebih strategis.

"Sayangnya BKKBN belum tergerak nyata dalam kebijakan ini karena masih dibawah 10% peserta KB yang dibayar melalui BPJS." cetusnya.

Angka kelahiran masih tinggi

Seperti diketahui, pemerintah mencanan gkan gerakan keluarga berencana pada akhir 1970an dengan tujuan meningkatkan jumlah penduduk untuk menggunakan alat kontrasepsi dan menurunkan jumlah angka kelahiran bayi. Jumlah anak dalam sebuah keluarga yang dianggap ideal adalah dua.

Meski telah dijalankan selama sekitar 30 tahun, nilai-nilai keluarga kecil sejahtera tampaknya tidak hidup, terbukti dengan fertilitas penduduk Indonesia yang berada pada tingkat 2,6 per ibu, tergolong relatif tinggi.

Provinsi di Indonesia bagian timur, seperti di Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Barat mencatat angka cukup tinggi, 2.5. Di beberapa provinsi lain, seperti di DKI Jakarta, Jawa Timur dan DI Yogyakarta, angka kelahiran menyentuh angka dibawah 2.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Terd apat sektiar 5.000 keluarga di Kelurahan Mangga Dua Selatan, kebanyakan dari mereka memiliki lebih dari dua anak.

Sementara angka pengguna kontrasepsi masih sekitar 57% dengan dominasi penggunaan KB jangka pendek, dan fertilitas remaja dengan usia berkisar 15-19 tahun masih tinggi, yaitu 48 kelahiran per 1.000 wanita.

Menurut salah satu penyuluh keluarga berencana, Iip Syaripudin, program KB menjadi stagnan lantaran kebanyakan perempuan lebih memilih alat kontrasepsi jangka pendek, seperti pil, suntik dan kondom, ketimbang menggunakan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) seperti implan.

"Kalau pil, suntik dan kondom kan non-MKJP. Kebanyakan dari warga [memilih] suntik."

"Masyarakat kita sudah tau semua, KB yang ini kegagalannya ini, efek sampingnya ini, Cuma ada masyarakat yang 'ah kalau pakai susuk takut dibe lek, kalau IUD takut copot, takut lari ke jantung'.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Penyuluh Keluarga Berencana Iip Syaripudin menyebut program KB kurang berhasil karena kebanyakan perempuan memilih menggunakan alat kontrasepsi jangka pendek.

"Makanya kita diadakan di sini mendengungkan KB lagi, kita adakan layanan KB di sini. Karena kalau ke puskesmas di sana antri, jadi kita jemput bola di sini.'

Kepala BKKBN, Surya Chandra Surapaty, mengatakan pembangunan bidang kependudukan dan keluarga berencana di Tanah Air mengalami stagnasi.

"Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007 dan 2012 menunjukkan stagnasi program KB dilihat dari beberapa indikator capaian," ujarnya seperti dikutip dari antara.com.

Indik ator capaian tersebut, antara lain angka kelahiran rata-rata tetap berada pada level 2,6 pada 2012, angka pengguna kontrasepsi masih berkisar 57 persen dengan dominasi penggunaan KB jangka pendek, angka "unmet need" masih tinggi sebesar 8,5, dan fertilitas remaja (ASFR 15-19) masih tinggi, yakni 48 kelahiran per 1.000 wanita.

Namun menurut pakar kependudukan, Siswanto Aguswilopo, angka kelahiran rata-rata ini membaik pada 2015.

Berdasar suvei PMA2020 yang dilakukan atas kerjasama BKKBN, Universitas Sumatra Utara dan Universitas Hasanudin atas bantuan Bill Melinda Gate Foundation melalui John Hopkins USA, angka kelahiran rata-rata di Indonesia berada di level 2,3.

"Angka ini tersebut sjekan dengan angka SUPAS 2015 dan Susenas 2016," kata Siswanto yang pernah menjabat sebagai Deputi Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi BKKBN ini.

"Indonesia dari tahun 2012 (baseline) FP2020 sampai 2017 berkontribusi sekitar 2 juta new addition al users yang targetnya secara global 120 juta. Maklum kelihatannya sedikit ini karena users di Indonesia sudah sekitar 60 persen," imbuhnya.

  • Dukungan Paus atas keluarga berencana
  • Presiden Duterte perintahkan pembagian alat kontrasepsi gratis
  • Hidupkah nilai-nilai KB?

Berdasar laporan FP2020 Rasio penggunaan kontrasepsi modern di Indonesia pada 2016 adalah 44,3%, artinya jumlah perempuan yang menggunakan kontrasepsi meningkat sekitar 1,2 juta ketimbang 2012. Sementara kebutuhan yang belum terpenuhi sekitar 13,8%.

Sebagian besar atau 45% perempuan Indonesia lebih banyak menggunakan kontrasepsi suntik, sementara sisanya mengkonsumsi pil (22,6%), implan (7,5%), intrauterine device (IUD) atau dikenal dengan KB Spiral (8,1%), KB steril (6.4%), sementara sisanya menggunakan kondom (2.6%).

Dengan penggunaan alat kontrasepsi ini, 8,8 juta kehamilan yang tidak diinginkan bisa dicegah, 3 juta aborsi yang tidak sehat dan 13.000 kemat ian maternal juga juga bisa dicegah.

1,5 juta remaja putri aktif secara seksual

Analisis data dari survey demografi dan kesehatan Indonesia (SDKI) 2012 yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat lebih dari 1,5 juta remaja putri Indonesia dibawah umur berusia 15-19 tahun saat ini aktif secara seksual -baik yang belum menikah dan pernah berhubungan seks dalam dalam tiga bulan terakhir atau mereka dalam pernikahan atau tinggal bersama.

Rata-rata perempuan yang melakukan hubungan seks sebelum usia 20 tahun, melakukannya pada usia 17,3 tahun sedang di antara remaja yang belum menikah, sekitar 1,2% di antaranya melaporkan pernah berhubungan seksual dan 0,4% mengaku aktif secara seksual.

Hak atas foto Dimas Ardian/Getty Images
Image caption BPS mencatat lebih dari 1,5 juta remaja putri Indonesia dibawah umur berusia 15-19 tahun saat ini aktif secara seksual

Adapun saat ini BPS sedang melakukan survey SDKI 2017.

Namun, BKKBN memproyeksikan jumlah remaja perempuan akan berjumlah 22,48 juta atau 14,72% dari jumlah total perempuan.

Semakin meningkatnya perilaku seksual remaja di luar nikah membawa dampak yang sangat berisiko, yaitu terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan. Setiap tahun, terdapat sekitar 1,7 juta kelahiran dari dari perempuan berusia dibawah 24 tahun, yang sebagian adalah kehamilan tidak diinginkan. Artinya, ada beberapa 'anak Indonesia yang sudah mempunyai anak'.

Pada 2019, Indonesia menargetkan sedikitnya 2,8 juta pengguna tambahan dengan rasio penggunaan alat kontrasepsi modern mencapai 65%. Dengan begitu, kebutuhan kontrasepsi modern perlu ditingkatkan sebesar 0,7% tiap tahunnya. Adapun saat ini pe ngguna kontrasepsi di Indonesia mencapai 30 juta.

Dengan upaya-upaya ini, angka kelahiran ditargetkan bisa ditekan menjadi 2,33 per anak per ibu, kebutuhan ber-KB yang tidak terpenuhi sebesar 10,26%, peserta KB aktif 21,7% dan tingkat putus pakai kontrasepsi 25,3%.

Sumber: Google News | Berita 24 Sulbar

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »