www.AlvinAdam.com

Berita 24 Sulawesi Barat

Subcribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Bocah-bocah kecil yang menjadi tulang punggung keluarga

Posted by On 04.51

Bocah-bocah kecil yang menjadi tulang punggung keluarga

]]> Bocah-bocah kecil yang menjadi tulang punggung keluarga

Supriyono sedang menyuapi ibunya.Hak atas foto Kompas.com
Image caption Supriyono sedang menyuapi ibunya.

Kisah anak-anak yang harus merawat anggota keluarganya yang sakit. Siapa harus bertanggung jawab?

Supriyono, 12 tahun, harus berhenti sekolah untuk merawat ibunya, 42 tahun, yang diserang tumor ganas.

"Sudah tiga bulan saya berhenti sekolah karena tidak ada yang mengurus ibu," kata Supriyono kepada Kompas.com.

Kakaknya yang juga berumur belasan, pergi merantau untuk menghidupi keluarga yang tinggal di Di Polewali Mandar, Sulawesi Barat ini.

Supriyono tinggal di rumah, memasak dan menyuapi ibunya. Dia juga mengurus adiknya yang berusia delapan tahun.

Tumor di kepala Rabiana, ibu Supriyono, makin membesar, dan hanya diobati dengan ramuan tradisional.

  • Bocah lima tahun dianiaya ibu: Mengapa para tetangga 'mengabaikan'?
  • Memviralkan video kekerasan anak: Apa dampaknya bagi korban?
  • Problematika anak 'oleh-oleh' TKI
  • Di Jombang, Jawa Timur, Helmy Prayoga ditinggal sendirian bersama neneknya. Anak kelas dua SD itu harus merawat neneknya yang renta dan hanya bisa terbaring di tempat tidur.

    Ayah Yoga sudah meninggal, sedangkan ibunya pergi ketika Yoga masih TK. "Ibu tak pernah pulang, tak pernah kasih kabar. Katanya kerja di Merauke," kata Yoga kepada detikcom.

    Sebelum berangkat sekolah, Yoga menyuapi neneknya yang sudah berusia 96 tahun. Pulang sekolah, dia mengerjakan pekerjaan domestik seperti menimba air, mencuci pakaian. Tak lupa menyuapi neneknya lagi dan memberi obat.

    Kebutuhan makan sehari-hari didapatkan dari bantuan tetangga, begitu juga untuk kebutuhan sekolah seperti seragam dan buku tulis, karena biaya sekolah gratis.

    "Saya tak berani meninggalkan embok sendirian (panggilan untuk neneknya), saya takut ditinggal mati embok," kata Yoga.

    Supriyono dan Yoga hanyalah dua kasus dari sekian banyak anak yang menjadi tulang punggung keluar ga, yang akhir-akhir ini beritanya sangat sering ada di media.

    Sejatinya, siapa yang seharusnya bertugas membantu anak-anak tersebut?

    Hak atas foto Enggran Eko Budianto/Detikcom
    Image caption Helmi merawat neneknya.

    Tugas pemerintah daerah untuk membantu

    Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menegaskan bahwa kasus-kasus ini seharusnya menjadi tugas pemerintah daerah melalui dinas terkait seperti Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan maupun Dinas Sosial.

    "Kalau orang dewasa yang seharusnya merawatnya sakit, merawat anak itu menjadi tugas pemerintah daerah," kata Komisioner KPAI Retno Listyarti saat dihubugi BBC Indonesia, Minggu (15/04).

    Bantuan negara penting ka rena kondisi yang dialami anak-anak ini berjangka panjang, sehingga bantuannya pun juga harus berkelanjutan.

    Anak yang menjadi tulang punggung keluarga rentan kehilangan hak-haknya sebagai anak.

    Menurut Retno, yang terpenting adalah inisiatif warga untuk minta bantuan negara. Dia memuji warga yang biasanya memang sudah turun tangan untuk langsung memberikan bantuan kepada anak-anak yang membutuhkan, misalnya dengan memberi bahan makanan.

    "Tapi bagaimana dengan kebutuhan anak yang lain? Anak-anak punya kebutuhan lain selain makan, dia perlu belajar, dan mendapat bantuan psikologis," kata Retno.

    • Heboh bocah TK bermotor: mengapa orangtua 'kurang peduli' pada aturan dan keselamatan?
    • Melihat anak-anak di Asmat yang dilanda wabah campak dan gizi buruk
    • Anak terpaksa ditinggal: kisah para ibu yang merantau ke Malaysia

    Karena itulah menurutnya warga setempat melalui RT, RW dan kelurahan harus sigap melaporkan kepada polisi atau dinas-dinas terkait.

    "Dinas Kesehatan bisa menangani keluarga yang sakit, apakah punya BPJS? Kalau tidak punya, dibantu urus," kata Retno.

    Dinas Sosial bisa mengurus keluarga yang difabel untuk dimasukkan ke panti atau sekolah untuk difabel agar bisa mandiri. Dinas Sosial juga harus mengurus kakek atau nenek yang renta untuk dimasukkan ke panti jompo.

    "Kasus ini harus 'dikeroyok' oleh dinas, dengan asesmen jelas, siapa melakukan apa," kata Retno.

    Namun jika sudah dilaporkan oleh warga tapi tidak ada tindakan, warga bisa melapor ke KPAI.

    Dia mencontohkan satu kasus yang pernah dilaporkan ke KPAI, yaitu anak yang ayahnya meninggal dan ibunya lumpuh. Kakaknya difabel, dan neneknya sakit. Dua anak yang sehat harus merawat kakak, ibu dan neneknya.

    "Kami mencari keluarga terdekatnya untuk bisa merawat anak-anak ini," kata Retno.

    Jika sudah dicari namun tidak ada keluarga terdekat, at au keluarga itu pun tidak mampu, anak-anak bisa diambil alih oleh negara.

    "Tapi pengambil alihan oleh negara ini tindakan terakhir setelah semuanya dicoba," kata dia.

    Sumber: Google News | Berita 24 Sulbar

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »