Kirim Berita Sulbar: Klik Disini | Konfirmasi Berita Sulbar: Klik Disini

Subcribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Kain, warisan dan perlengkapan kematian orang Mamasa

Posted by On 02.51

Kain, warisan dan perlengkapan kematian orang Mamasa

Arruan Mentodo' bersikap ramah waktu menerima saya. Tanpa canggung dia menyiapkan kursi di teras rumahnya yang berbentuk tongkonan khas Mamasa, lalu bergegas ke dapur untuk menyeduh kopi.

"Tamu itu pertanda rezeki," katanya belakangan waktu mengangkat ketel.

Nenek Mentodo', begitu dia biasa disapa, selalu sedia jerangan air di dapur. Padahal, perempuan 90 tahun itu tak pernah tahu kapan bakal ada tamu. Rebusan air biasa dipakai terutama untuk menyajikan kopi.

Di Dusun Tambun, Desa Bambapuang, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, Nenek Mentodo' generasi tertua yang masih hidup. Umurnya terulur melewati beberapa zaman. Ketika Jepang menduduki Indonesia, dia sempat dipaksa menjadi penari penghibur serdadu Nippon.

Saya menyambanginya untuk melihat koleksi sarung tenun miliknya. Maksud tersebut tak salah alamat. Sebab, dia penenun tertua di Desa Bambapuan g. Selain melahirkan banyak penenun lebih muda, Nenek Mentodo' menghasilkan kain-kain istimewa.

"Ini khusus hanya bisa digunakan oleh kalangan ningrat," ujarnya seraya membentangkan kain hitam dan putih setelah mencomotnya dari sebuah tumpukan. Yang hitam disebut Sambu Bembe Lotong, dan yang putih dilabeli Bembe Busa.

Di masa lampau, orang harus menyediakan seperempat kerbau untuk mendapatkan satu sarung tersebut. Kepemilikan pun hanya dimungkinkan bagi yang telah melakukan upacara kematian, yang dalam bahasa setempat disebut ma'allun, ritus dengan tahapan tertinggi bagi Mamasa.

Beberapa kain lain tak luput dari penjelasannya. Dia menjelaskan pula motif dan corak yang menghiasi tiap kain. Sembari mengeluarkan satu tas berwarna merah muda, dia mengatakan kain-kain sengaja dipersiapkan sebelum dia meninggal.

"Ini perlengkapan kematian saya," katanya sambil membongkar tas.

Tas barusan berisi baju, kain tenun, dan seju mlah perhiasan dari manik-manik. Juga ada sepu', tas khas Mamasa. Nenek Mentodo' menyiapkan pula seuntai kalung emas. Dia menyebut kalung itu manik parepassang. Konon nilainya cukup untuk menebus seekor kerbau.

Dia ingin berfoto dengan semua ornamen itu. Dalihnya, anak cucunya bisa tahu apa saja keinginannya kelak jika dia tiada. Meski Nenek Mentodo' telah memeluk Kristen, namun dia ingin diproses dengan ritual aluk mappurondo. Termasuk di situ, dipatadongkon atau didudukkan di kursi sebelum jenazah disimpan di peti.

Nenek Mentodo' menyimpan beberapa kain berusia panjang, yang sebagian besar dia tenun sendiri. Kain terakhir yang dia kerjakan sebelum akhirnya pensiun adalah sarung laki-laki. Jumlah totalnya lima helai. Semua dia berikan kepada anak-anaknya.

Bukan Nenek Mentodo' semata yang punya kecintaan untuk mengoleksi kain di usia senja. Sikap demikian lumrah di kalangan orang Mamasa, termasuk Toraja. Mengoleksi kain sudah jadi budaya. S oalnya, laku itu erat bertaut dengan upacara kematian.

Orang Mamasa pun memiliki pandangan yang sama dengan orang Toraja mengenai kesakralan kain. Pertalian rapat itu agaknya berakar pada sejarah.

Dulu, Mamasa selalu disebut Toraja bagian barat sebelum memilih memisahkan diri dan bergabung dengan Provinsi Sulawesi Barat. Tetapi, kini mereka mengembangkan identitas sendiri, termasuk urusan pelestarian kain.

Warga membuat  kain tenun  Mamasa  di Kecamatan Balla, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, Jumat (09/02/2018).  Tenun Mamasa memiliki ciri khas tersendiri, baik dari sisi representasi budaya masyarakat, keindahan tata warna, motif, dan  hiasannya.
Warga membuat kain tenun Mamasa di Kecamatan Balla, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, Jumat (09/02/2018). Tenun Mamasa memiliki ciri khas te rsendiri, baik dari sisi representasi budaya masyarakat, keindahan tata warna, motif, dan hiasannya. | Hariandi Hafid /Beritagar.id

"Setiap jenazah biasanya dikuburkan minimal berselimut sepuluh lembar kain," kata Eben Hezer (35), seorang pemilik toko kain di Dusun Rantesepang, Desa Balla, Kecamatan Balla. Daerah itu berjarak sekitar 8 kilometer dari ibu kota Kabupaten Mamasa.

Di tiap acara kematian, warna hitam selalu mendominasi alih-alih dua warna menonjol dalam adat mereka, yakni merah dan hitam.

Saya menyaksikan sendiri pengaruh warna hitam saat menyaksikan ritus pattumateang Gusmiati Lemba Bombong, 41 tahun, di Osango, Mamasa, Rabu (7/2/2018). Tradisi dimaksud biasa ditegakkan ketika ada yang meninggal.

Kala itu, nyaris semua yang datang memakai baju hitam dan sarung hitam yang dililit menutupi tubuh. Cara berbusana semacam itu--plus kain cukup tebal--cocok dengan udara di Mamasa yang sejuk.

Ritus pattumateang bahkan masih berlaku bagi orang-orang yang sudah menganut agama samawi. Jenazah mereka akan tetap dibalut dengan beragam kain di dalam petinya.

Tidak mengherankan kalau kain sarung jadi barang dagangan yang tak mengenal musim di tokonya. Tiap saat, ada saja orang yang datang dan membeli, "meski telah banyak penenun yang mulai meninggalkan tenun sarung," katanya.

Pernyataan Eben Hezer barusan bukan fiksi. Tidak jauh dari tokonya terdapat sebuah perkampungan tenun rintisan keluarga Eben yang tidak lagi mengerjakan tenun sarung. Mereka memilih menenun selendang, taplak meja, dan kain-kain lain yang berukuran lebih kecil.

Dorsila (56), seorang penenun yang ditemui di tempat itu, bercerita bahwa tenun sarung memakan waktu pengerjaan cukup lama. Sementara, dia butuh penghasilan cepat. "Tenun sarung bisa makan waktu berhari-hari untuk satu lembar, sementara taplak meja bisa dua hingga empat lembar sehari ," ujarnya.

Semua penenun di Desa Balla perempuan. Mereka rata-rata tangguh. Pasalnya, selain menenun mereka juga tetap melakukan pekerjaan dapur. Mereka tak sungkan pula memberi makan babi-babi. Tidak sedikit bahkan yang turut membantu suami di sawah. Tapi, tentu tak semua penenun begitu.

Warga membuat  kain tenun  Mamasa  di Kecamatan Balla, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, Jumat (09/02/2018).  Tenun Mamasa memiliki ciri khas tersendiri, baik dari sisi representasi budaya masyarakat, keindahan tata warna, motif, dan  hiasannya.
Warga membuat kain tenun Mamasa di Kecamatan Balla, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, Jumat (09/02/2018). Tenun Mamasa memiliki ciri khas tersendiri, baik dari sisi representasi budaya masyarakat, keindahan tata warna, motif, dan hiasannya. | Hariandi Hafid /Beritagar.id

Para penenun di sana terikat dua cara pengupahan. Pertama, orang yang dipekerjakan oleh pemilik toko seperti Eben dengan sistem beli-putus (selembar kain dihargai sekian). Kedua, bagi-hasil.

"Bahan seluruhnya dari orang, kami bagi dua hasil kainnya ketika jadi," kata Dorsila.

Kondisi demikian bikin banyak penenun di Desa Balla condong kepada kain dengan masa pengerjaan pendek. Secara keekonomian, hasilnya lebih cepat didapat. Kondisi tersebut membuat Desa Bambapuang--kampung Nenek Mentodo'--satu-satunya tempat penenunan sarung yang masih konsisten di Mamasa.

Penenun lain yang saya datangi di Desa Bambapuang bernama Lotong, 50 tahun. Ketika dikunjungi, dia tengah intens menenun kain rambu tukka' berwarna jingga di teras rumahnya sambil berselonjor.

Rambu tukka' biasanya dikenakan untuk acara s yukuran, dan warna jingga khusus dipakai perempuan. Kain itu diukir dengan gayanggayang (berbentuk keris).

Seturut keterangannya, kain yang sedang dikerjakan hendak dijadikan baju oleh sang pemesan. "Ada banyak motif yang bisa dipakai, tergantung pemesan maunya apa," katanya.

Berbeda dengan pengrajin di Desa Balla, Lotong dan beberapa perempuan di Desa Bambapuang menenun atas dasar pesanan. Terlepas dari itu, dia juga menjajakan produksinya di pasar. "Anak saya yang membantu jualkan," kata ibu beranak lima itu.

Sayangnya, tidak satu pun anaknya mewarisi kemahirannya menenun. Hal ini berlaku nyaris di seluruh daerah penenun di Mamasa. Sangat jarang remaja mau belajar menenun. Padahal, Eben dan rekan-rekannya berambisi terus melestarikan tenun khas Mamasa.

Kini terdapat dua jenis tenunan yang pengrajinnya mulai berkurang: pallawa dan sungkit.

Pallawa dikerjakan tanpa alat tenun seperti biasanya. Kain itu seluruhnya diolah dengan menga ndalkan kelihaian jari-jari beserta beberapa kertas berbentuk kartu sebagai pemisah. Sementara, sungkit merupakan kain tenun paling sulit.

"Kain sungkit ditenun di atas permukaan kain, seperti disulam tapi lebih rumit, karena tidak timbal balik," kata Eben Hezer.

Lotong (50) menenun kain Mamasa di teras Rumahnya di Kecamatan Balla, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, Jumat (09/02/2018).  Tenun Mamasa memiliki ciri khas tersendiri, baik dari sisi representasi budaya masyarakat, keindahan tata warna, motif, dan  hiasannya.
Lotong (50) menenun kain Mamasa di teras Rumahnya di Kecamatan Balla, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, Jumat (09/02/2018). Tenun Mamasa memiliki ciri khas tersendiri, baik dari sisi representasi budaya masyarakat, keindahan tata warna, motif, dan hiasannya. |

Kain pallawa yang asli mulai punah. Beberapa orang di Mamasa memang masih bisa menyulam pallawa, tapi coraknya sederhana dan hanya didominasi garis. Padahal, kain pallawa tulen menampilkan cerita dan berpola lebih rumit.

"Semua unsur ada di kain tersebut, mulai tau-tau (orang), tongkonan hingga hewan ternak. Pengrajin ini yang sudah langka," tutur Eben sambil memperlihatkan kain pallawa dengan motif kotak-kotak.

Kain ini biasa dipakai sebagai tepian baju. Lebar kain yang dikenakan disesuaikan dengan strata sosial si pemakai. Ada yang selebar satu jari, hingga maksimal empat jari. Keberadaan kain pallawa pada pakaian juga dilihat dari posisinya: ia bisa di ujung lengan atau melintang di tengah.

Tenun pallawa mengaplikasikan teknik paling tua di Mamasa. Meski tak lagi ada pengrajin yang mahir membuat bentuk kain yang asli, namun ada harapan teknik ini terus berkembang. Setidaknya, ia tidak sepenuhnya punah.

Di masa lalu, konon hanya kalangan tertentu yang bisa memiliki kain tenun. Selain motif rumit dan proses pembuatan lama, kain tenun mensyaratkan persembahan berupa kerbau untuk memilikinya. Namun, sekarang semua orang sudah bebas memilikinya.

Eludia (59), pedagang kain di Pasar Sentral Mamasa, bercerita kalau kain sekarang sudah jadi buah tangan. "Kami melestarikan sejarahnya, banyak orang yang ingin tahu. Tapi, memang belum seterkenal kain dari Toraja. Padahal kami punya kualitas lebih baik," ujarnya.

Tekstur kain Mamasa memang lebih lembut. Corak juga beragam. Terlebih lagi, teknik menenun Mamasa kuno, meski tak lagi persis aslinya. Bentuk kain yang dibuat sarung di Mamasa pun panjang-panjang--meski tidak lebar--hingga dapat melewati tinggi badan orang dewasa.

Ketika berjalan sore-sore di Mamasa, kita akan dengan mudah menemukan orang-orang berselempang sarung. Baik itu orang tua, atau anak-anak muda yang sekadar non gkrong. Kecintaan mereka kepada kain telah jadi budaya, dan mereka bangga akan itu.

Walau telah banyak pergeseran pada bahan dasar kain, tradisi mengoleksi kain di hari tua seperti yang Nenek Mentodo' lakukan tidak banyak berubah. Bahkan, tidak sedikit yang malah menjadikan kain sebagai warisan berharga.

Sebab, bagi sosok seperti Nenek Mentodo', kain adalah identitas budaya yang tingkat kesakralannya sejajar dengan ritual adat lain. Jika kain tenun raib, maka budaya Mamasa juga turut memudar.

"Saya pernah hidup di zaman penjajahan. Saat itu sangat sulit memiliki kain, walau sekadar menutupi badan. Baiknya, kain Mamasa harus tetap dilestarikan," katanya.

Sumber: Google News | Berita 24 Sulbar

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »