GRID_STYLE

Post/Page

Weather Location

{fbt_classic_header}

Kapolda Sulbar Buka Training Deradikalisasi Bagi Generasi Millenial

Kapolda Sulbar Buka Training Deradikalisasi Bagi Generasi Millenial

Kapolda Sulbar Buka Training Deradikalisasi Bagi Generasi Millenial Kegiatan ini dibuka langsung oleh Kapolda Sulawesi Barat, Brigjen Pol Baharudin Djafar akan …

Kapolda Sulbar Buka Training Deradikalisasi Bagi Generasi Millenial

Kapolda Sulbar Buka Training Deradikalisasi Bagi Generasi Millenial

Kegiatan ini dibuka langsung oleh Kapolda Sulawesi Barat, Brigjen Pol Baharudin Djafar akan berlangsung selama dua hari

Kapolda Sulbar Buka Training Deradikalisasi Bagi Generasi MillenialHANDOVERLembaga pengembangan wacana, riset, kemanusiaan dan partisipasi sosial, Esensi, Sulawesi Barat, menggelar training deradikalisasi bagi generasi millenial, di d'Maleo Hotel Mamuju, Jl. Yos Sudarso, Kelurahan Binanga, Kecamatan Mamuju, Senin (27/8/2018).

Laporan Wartawan TribunSulbar.com, Nurhadi

TRIBUNSULBAR.COM, MAMUJU -Lembaga pengembangan wacana, riset, kemanusiaan dan partisipasi sos ial, Esensi, Sulawesi Barat, menggelar training deradikalisasi bagi generasi millenial, di d'Maleo Hotel Mamuju, Jl. Yos Sudarso, Kelurahan Binanga, Kecamatan Mamuju, Senin (27/8/2018).

Kegiatan ini dibuka langsung oleh Kapolda Sulawesi Barat, Brigjen Pol Baharudin Djafar akan berlangsung selama dua hari, Senin-Selasa 27-28 Agustus 2018.

Selain membuka kegiatan, Brigjen Pol Baharudin Djafar, juga hadir sebagai narasumber kegiatan yang diikuti sekitar 30 orang peserta dari berbagai organisasi pemuda berlatar belakang agama-agama.

Dalam kegiatan yang mengangkat tema 'Rekonstruksi dan Inisiasi Peran Generasi Milenial Terhadap Penguatan Identitas Berbangsa dan Bernegara', jenderal polisi bintang satu itu memaparkan materi terkait eksplorasi potensi radikalisme di Sulawesi Barat.

Dalam materi, mantan Kabid Humas Polda Metro Jaya itu menyebutkan, bahwa salah satu ciri-ciri teroris atau radikal atas nama agama, adapah kelompok yang sepakat mensoli mi atau merugikan orang lain.

"Tidak ada ajaran agama yang membenarkan menzalimi orang lain,"ujarnya di hadapan para peserta.

Ia menyebutkan, bahwa paham radikalisme bermula dari pada, yang kerap kali menganggap orang lain tidak benar dan dialah yang paling benar.

"Jadi radikalisme itu bermula dari paham walupun belum ada tindakan, yang masuk kewat agama, budaya dan media sosial,"kata dia.

Di Sulbar ini, kata dia, data menunjukkan 54,5 persen potensi radikalisme, angka ini berapasa sedang menuju kuat.

Dikatakan, salah satu potensi berkembangnya tindakan radikalisme di Sulbar karena berbatasan dengan daerah Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah yang notabene sebagai daerah yang bergejolak.

"Untuk menangkap paham radikalemisme, pendidikan dini anak harus dibenahi dengan baik, lewat peran orang tua, Kanwil Kemenag, FKUB, FKPT, termasuk kalangan generasi millenial,"ujarnya.

Menurutkan, ada tu juh dimensi tangkal radikalisme, diantaranya memperbaiki kesadaran hukum dan ketertiban, kesejahteraan dan kemakmuran, hankam, keadilan hukum dan sosial, kebebasan, profil keagamaan dan kearifak lokal.

"Sebagai kesimpulan, saya berharap, para peserta membawa kebaikan pulang dari tempat ini, jangan disiasiakan waktunya agar paham-paham radikal tidak tertular pada generasi kita,"tuturnya. (*)

Penulis: Nurhadi Editor: Anita Kusuma Wardana Ikuti kami di Video Massa Mengadang Mobil Presidium 2019 Ganti Presiden Neno Warisman di Gerbang Bandara Pekanbaru Sumber: Berita Sulawesi Barat

Tidak ada komentar